at-the-table
Kuliner Gorontalo Masuk dalam Buku ‘At The Table’
April 20, 2016
IMG-20151127-WA0006

SIARAN PERS

DIALOG GASTRONOMI NASIONAL DAN PELUNCURAN DESTINASI WISATA KULINER – INDONESIA SPICE UP THE WORLD

 

ChefHaryo1AGI, JAKARTA –  Dalam rangka mengenali gastronomi Indonesia dan potensi pengembangannya serta identifikasi langkah-langkah pelestarian dan pengembangan gastronomi Indonesia serta usaha menglobalisasikan makanan Indonesia, Akademi Gastronomi Indonesia (AGI) didukung oleh Kementerian Pariwisata menyelenggarakan Dialog Gastronomi Nasional yang pertama di Indonesia.  Acara selama dua hari ini diselenggarakan dari tanggal 23-24 Nopember 2015 di Hotel Gran Mahakam, Jakarta.

Dialog Gastronomi Nasional ini akan dibuka secara resmi oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya dan Ketua AGI, Vita Datau Mesakh. Kegiatan ini merupakan langkah pertama bagi setiap pemangku kepentingan untuk saling berbagi dan berdiskusi serta membangun landasan penting gastronomi Indonesia.

DSC_2352Potensi perkembangan dan pertumbuhan gastronomi di Indonesia sangat besar dan unik. Indonesia sebagai penghasil rempah-rempah tentu memiliki hidangan yang sangat beragam, hal ini dapat dilihat dari ragam etnik dan kebudayaan yang dimiliki oleh masing-masing suku.  Selain itu keunikan geografis, jenis pangan serta latar belakang sejarah juga merupakan unsur-unsur yang menjadikan keunikan gastronomi di Indonesia.

Namun, pada kenyataannya keunikan dan keanekaragaman gastronomi yang ada Indonesia makin tergerus oleh waktu dan jaman serta perubahan pola dan gaya hidup bangsa Indonesia. Nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh tiap daerah dan etnis di Indonesia perlahan mulai menghilang. Masyarakat urban di kota-kota besar di Indonesia semakin jarang bersentuhan dengan identitas asal mereka.

DGN2Globalisasi juga merupakan salah satu faktor yang menjadi tantangan bagi pelestarian gastronomi Indonesia. Hal ini dapat mengaburkan persepsi tentang identitas dan tempat. Tapi tidak dapat dipungkiri, bahwa globalisasi juga merupakan peluang untuk mengangkat gastronomi Indonesia di dunia internasional.

Menanggapi hal tersebut, Vita Datau, Ketua AGI menyatakan bahwa pelestarian dan pengembangan warisan makanan tradisional Indonesia adalah sebuah tantangan besar. Demikian pula dengan globalisasi makanan Indonesia.

“AGI melihat bahwa tantangan-tantangan ini harus dijadikan sebagai peluang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan gastronomi terkaya di dunia,” tandas Vita.

DR. Virginia Kadarsan, Kepala Riset, Pengembangan dan Edukasi AGI juga menambahkan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang besar harusnya menyadari bahwa gastronomi Indonesia tidak dibangun dalam keselarasan dan kesamaan, akan tetapi dibentuk dalam kekontrasan (harmony in contrary) karena keanekaragaman justru menjadi keunikan gastronomi Indonesia.

Program yang digagas AGI tersebut sejalan dengan program yang dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata. Dalam upaya pengembangan wisata kuliner di Indonesia, Kementerian Pariwisata telah menetapkan 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI) yang merupakan platform awal pengembangan kuliner tradisional Indonesia. Selain itu, Kemenpar pada tahun ini menetapkan 5 destinasi wisata kuliner unggulan yang dilihat berdasarkan 6 (enam) kelayakan, yaitu: produk dan daya tarik utama; pengemasan produk dan even ; Kelayakan pelayanan; Kelayakan lingkungan; Kelayakan bisnis; serta Peranan pemerintah dalam pengembangan destinasi wisata kuliner.

Kelima destinasi wisata kuliner tersebut adalah Bandung,  Solo, Yogyakarta, Semarang,  Bali.

DGN4Jumlah tersebut diharapkan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya kesiapan dan komitmen pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi wisata kuliner di daerahnya masing-masing, mengingat wisata kuliner memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Data Kementerian Pariwisata tahun 2013 menyatakan bahwa sektor kuliner memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar Rp 208,6 triliun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,5 persen dari tahun 2012-2013. Sektor kuliner juga menyerap tenaga kerja sebesar 3,7 juta orang dengan rata-rata pertumbuhan sebesar, 26 persen. Unit usaha yang tercipta dari sector ini tercatat sebesar 3,0 juta dengan rata-rata pertumbuhan 0,9 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kuliner Indonesia dapat menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi masyarakat.

Wisata kuliner diharapkan mampu menjadi unsur utama yang berfungsi sebagai perekat terhadap rangkaian berwisata, mengingat kepariwisataan merupakan sektor yang multi-atribut dan prospektif sebagai pintu gerbang sekaligus citra pariwisata Indonesia. Dengan dinobatkannya rendang sebagai salah satu makanan terlezat di dunia (World’s 50 Most delicious Foods) versi CNN, menunjukkan bahwa kuliner Indonesia memiliki daya tarik yang besar dan dapat diterima oleh masyarakat internasional. Sudah selayaknya kuliner Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menunjukkan taringnya di dunia internasional, bersaing dengan negara-negara yang terkenal dengan kulinernya seperti Perancis, Italia, Jepang, Korea Selatan dan Thailand.

Dialog Gastronomi Nasional dan Peluncuran Destinasi Wisata Kuliner Tahap pertama ini terselenggara atas kerjasama AGI dengan Kementerian Pariwisata dan didukung oleh PT Pupuk KuJang Cikampek, Total Indonesie, Hotel Gran Mahakam dan Kedutaan Besar Denmark.

AGI (Akademi Gastronomi Indonesia) adalah sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen dalam mengungkapkan, melestarikan dan mempromosikan kekayaan gastronomi Indonesia sebagai identitas bangsa Indonesia; baik pada tingkat nasional maupun internasional. AGI merupakan anggota ke-23 dari Akademi Gastronomi Internasional yang berkantor pusat di Paris, Perancis.

Untuk informasi lebih lanjut, mohon menghubungi:

Josephine Imelda
Kepala Komunikasi dan PemasaranAkademi Gastronomi Indonesia
Telp: 0813 1869 3599E-mail: imelda@akademigastronomi.or.id

 

Download Report DGN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *